Mendikti Saintek Di-reshuffle, Akankah 3 Menteri Prabowo Ini adalah Menyusul?

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto melantik Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, kemudian Teknologi (Mendikti Saintek) menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro pada Rabu (19/2/2025). Pelantikan ini merupakan langkah pertama di pembaruan kabinet di dalam awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Reshuffle kabinet perdana ini menjadi jawaban berhadapan dengan kritik rakyat terhadap kinerja 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski banyak pencapaian positif, tapi selama masa itu terdapat beberapa menteri yang tersebut dianggap berkinerja buruk berdasarkan survei beberapa lembaga, sehingga muncul pertanyaan rakyat apakah Presiden Prabowo akan melakukan reshuffle kabinet atau tidak.
Dalam artikel ini, dibahas lebih tinggi lanjut mengenai menteri-menteri yang mana kinerjanya dinilai kurang memuaskan kemudian mungkin saja berisiko digeser.
3 Menteri Prabowo yang tersebut Dinilai Banyak Pihak Layak Di-reshuffle
1. Menteri Hak Asasi Manusia: Natalius Pigai
Natalius Pigai adalah Menteri Hak Asasi Manusia yang dimaksud mendapat sorotan tajam sebab dinilai tiada maksimal pada menjalankan tugasnya. Berdasarkan survei yang dirilis oleh Celios pada 21 Januari 2025, Pigai memperoleh nilai -113 poin, bilangan yang digunakan mencerminkan ketidakpuasan rakyat terhadap kinerjanya. Salah satu alasan utama mengapa Pigai mendapat penilaian negatif adalah ketidakhadirannya pada mengatasi pelanggaran HAM yang tersebut terjadi dalam beberapa daerah, seperti dugaan pelanggaran HAM pada proyek strategis nasional dalam Pulau Rempang, Batam, juga persoalan hukum pagar laut di dalam Tangerang, Banten.
Kritik terhadap Natalius Pigai:
1. Pigai dianggap tidak ada menunjukkan kinerja nyata di 100 hari pertama pemerintahannya.
2. Sejumlah anggota DPR, termasuk Fraksi PDIP, menyoroti ketidakaktifan Pigai di menyelesaikan permasalahan HAM.
3. Selama menjabat, Pigai tiada terlihat turun secara langsung ke lapangan untuk menangani kasus-kasus pelanggaran HAM seperti yang digunakan diharapkan sejumlah pihak, berdasarkan pengalamannya di tempat Komnas HAM sebelumnya.
Jika kinerjanya terus merosot, tiada melakukan penutupan kemungkinan Presiden Prabowo akan mempertimbangkan reshuffle untuk menggantinya dengan sosok yang tersebut lebih besar bergerak dan juga berikrar terhadap proteksi hak asasi manusia.
2. Menteri Koperasi serta UKM: Budi Arie Setiadi
Budi Arie Setiadi, yang dimaksud menjabat sebagai Menteri Koperasi lalu Usaha Kecil serta Menengah (UKM), juga masuk di daftar menteri dengan kinerja buruk. Berdasarkan survei Celios, Budi Arie memperoleh nilai -61 poin. Meskipun memiliki latar belakang yang digunakan cukup baik, ia dinilai kurang mampu menciptakan terobosan baru di mengatur koperasi serta memperbaiki perekonomian bidang usaha kecil. Bahkan, beberapa pihak menilai Budi Arie tidaklah memberikan pengembangan yang dimaksud berarti untuk sektor UKM yang sangat penting bagi kegiatan ekonomi Indonesia.
Kritik terhadap Budi Arie Setiadi:
1. Minimnya kebijakan atau acara yang terukur untuk meningkatkan kinerja koperasi juga UMKM.
2. Kasus pencurian data yang tersebut melibatkan staf Kementerian Komunikasi dan juga Informatika (Kominfo), yang mana sebelumnya berada pada bawah pengawasannya, memperburuk citra Budi Arie.
3. Kasus kerja identik dengan pengelola judi online yang digunakan melibatkan anak buahnya semakin menambah kontroversi mengenai kredibilitas Budi Arie pada mengawasi kementerian.
Sektor UKM serta koperasi memerlukan pemimpin yang mampu berinovasi serta menghadirkan solusi konkret untuk mengupayakan perekonomian rakyat. Bila Budi Arie tiada dapat memperbaiki kinerjanya, reshuffle kabinet bisa saja menjadi langkah yang digunakan tepat untuk menggantikannya.
3. Menteri Energi serta Narasumber Daya Mineral: Bahlil Lahadalia
Bahlil Lahadalia, yang dimaksud juga menjabat sebagai Menteri Tenaga juga Narasumber Daya Mineral (ESDM), mendapat penilaian yang digunakan kurang baik pada survei Celios. Bahlil, yang tersebut dikenal sebagai Ketua Umum Partai Golkar, memperoleh nilai -41 poin, menjadikannya salah satu menteri dengan kinerja terburuk. Salah satu kebijakan yang mana mendapat kritik keras adalah rencana penghapusan pengecer LPG 3 kg. Kebijakan ini ditujukan untuk menyederhanakan distribusi subsidi, namun justru menyebabkan polemik besar dalam masyarakat.
Kritik terhadap Bahlil Lahadalia:
1. Kebijakan penghapusan pengecer LPG 3 kg yang mana menyebabkan antrean panjang juga kesulitan bagi penduduk kecil untuk mendapatkan gas subsidi.
2. Konsekuensi sosial dari kebijakan ini sangat besar, lantaran sejumlah penjual kecil yang kehilangan sumber penghasilan mereka akibat kebijakan tersebut.
3. Meskipun tujuannya baik, kurangnya sosialisasi dan juga perencanaan yang dimaksud matang menyebabkan kebijakan ini menjadi hambatan bagi rakyat.
Mengingat kontroversi ini dan juga peluang gangguan sosial yang ditimbulkan, reshuffle kabinet dapat menjadi langkah yang dimaksud diperlukan untuk mengganti Bahlil dengan sosok yang lebih banyak mampu merancang kebijakan yang tersebut lebih banyak bijaksana dan juga berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Mengapa Reshuffle Kabinet Prabowo Diperlukan?
Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan reshuffle kabinet bukanlah hal yang mana mudah. Namun, berdasarkan hasil survei juga analisis kinerja menteri, ada beberapa alasan kuat mengapa reshuffle kabinet sangat diperlukan:
1. Menguatkan Prestasi Pemerintah: Kemampuan beberapa menteri yang tersebut dinilai buruk dapat merugikan citra pemerintahan. Jika merekan tidaklah dapat menunjukkan hasil yang tersebut positif, pemerintah kemungkinan besar akan kehilangan dukungan dari masyarakat, teristimewa jikalau hambatan yang disebutkan berlarut-larut tanpa ada perbaikan.






