Rights Issue Kantongi Restu OJK, IATA Target Himpun Dana Segar Rp1,27 Trilyun

JAKARTA – PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) telah lama memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) pada tanggal 20 Februari 2025, untuk melaksanakan Penawaran Umum Terbatas III dengan mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue .
Dalam aksi korporasi ini, IATA akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 20.190.596.389 saham Seri B, atau sebesar 44,44% dari total modal disetor pasca PUT III, dengan rasio pembagian 5:4 (setiap lima saham lama akan mendapatkan empat HMETD), di dalam mana setiap 1 (satu) HMETD berhak untuk membeli 1 (satu) saham baru yang harus dibayar penuh pada ketika mengajukan pemesanan pelaksanaan HMETD.
Dengan tarif eksekusi HMETD sebesar Rp63 per saham, IATA memiliki target penghimpunan dana segar hingga Rp1,27 triliun. Seluruh dana yang tersebut diperoleh setelahnya dikurangi dengan biaya-biaya emisi terkait, akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan termasuk untuk melakukan trading batu bara.
Prospek Bisnis Batu Bara
Perseroan meyakini bahwa industri batu bara akan terus berprogres positif pada tahun 2025, didukung oleh permintaan yang digunakan stabil kemudian strategi operasional yang tersebut efisien, meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga, kenaikan biaya unsur bakar, tarif royalti, peraturan terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dimaksud baru, dan juga biaya operasional lainnya.
Batu bara merupakan sumber energi terjangkau serta komponen bakar utama untuk sektor kelistrikan di area beberapa negara besar seperti China juga India. Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi permintaan batu bara global akan mencapai 8.801 jt ton pada 2025 atau bertambah 0,34% dibandingkan tahun 2024.
China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia, diproyeksikan akan mengonsumsi sebesar 4.940 jt ton (56%), sedangkan India sebagai konsumen batu bara terbesar kedua diperkirakan mencapai konsumsi sebesar 1.363 jt ton (15%) pada 2025.
Di Indonesia, batu bara masih menjadi fondasi utama di bauran energi, khususnya di memenuhi permintaan listrik nasional, di tempat mana 67% pembangkit listrik pada Indonesia masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi.
Pemerintah melalui Kementerian Tenaga serta Narasumber Daya Mineral (ESDM) berusaha mencapai produksi batu bara Indonesia mencapai 735 jt ton pada 2025, meningkat dari target 2024 sebesar 710 jt ton. Dari total target produksi 2025, sekitar 240 jt ton dialokasikan untuk keperluan domestik, sementara 495 jt ton ditujukan untuk lingkungan ekonomi ekspor.
Kinerja Perseroan
Di tahun 2024, ekspor menyumbang 66,8% dari total transaksi jual beli batu bara IATA. Dari seluruh transaksi jual beli ekspor tersebut, India menempati urutan pertama dengan 35,5%, dihadiri oleh oleh China sebesar 20,3%, Vietnam 10%, dan juga negara-negara lainnya 1%.
Mengelola 6 IUP-Operasi Produksi dalam Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, IATA secara terlibat meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan batu bara yang mana tinggi juga terus melakukan eksplorasi untuk mencari tambahan cadangan terbukti. Pada 2025, Perseroan akan memaksimalkan produksi pada IUP milik PT Putra Muba Coal (PMC), PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), serta PT Arthaco Prima Energy (APE), yang tersebut akan memberi sumbangan pertumbuhan perusahaan IATA.
Berdasarkan laporan Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI), pada waktu ini IATA mempunyai cadangan batu bara sebanyak 294,2 jt MT. Total yang disebutkan diperoleh dari belaka sekitar 15% luas area penambangan Perseroan sebesar 51.982 Ha. IATA meyakini cadangan batu bara akan terus bertambah seiring dengan proses eksplorasi menunjukkan tambahan cadangan terbukti, setidaknya sebanyak 600 jt MT untuk semua IUP.
Jadwal Right Issues
20 Februari 2025 – Pernyataan Efektif dari OJK
28 Februari 2025 – Cum HMETD pada Pasar Reguler serta Pasar Negosiasi
4 Maret 2025 – Cum HMETD dalam Pasar Tunai, – Recording Date
6-12 Maret 2025 – Periode Perdagangan HMETD
17 Maret 2025 – Penjatahan Saham Tambahan
18 Maret 2025 – Distribusi Saham Tambahan






