Sinergi Ormas juga eksekutif Perlu Diperkuat Menghadapi Tantangan Keberagaman di dalam Indonesia

JAKARTA – Indonesia sebagai negara dengan keberagaman etnis, budaya, kemudian agama, mempunyai tantangan besar pada menjaga kerukunan antarumat beragama. Salah satu tantangan yang dimaksud adalah berkembangnya paham sektarian yang tersebut sanggup memecah belah masyarakat. Paham sektarian banyak kali muncul akibat sifat keegoan, dan juga ketidaktoleranan terhadap perbedaan, yang dimaksud dapat berujung pada konflik kemudian kekerasan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah serta organisasi kemasyarakatan (ormas) sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial juga mengedepankan nilai-nilai keberagaman juga toleransi di keberadaan bermasyarakat.
Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hamim Ilyas menyoroti konflik yang dimaksud terjadi antarormas yang kerap muncul belakangan ini. Menurutnya, organisasi rakyat maupun organisasi keagamaan harus miliki visi, misi juga tujuan yang dimaksud jelas, sehingga miliki kaderisasi lalu pembinaan di dalam di internal anggotanya.
“Organisasi yang digunakan benar untuk mencapai tujuan itu ada pengkaderan, ada pembinaan anggota, itu dilakukannya, sehingga organisasi itu terus berlanjut,” kata Hamim di tempat Yogyakarta, Hari Minggu (26/1/2025).
Selain itu, menurut Hamim, penting bagi pemerintah untuk mengedukasi organisasi keagamaan tentang moderasi beragama di memperkuat hidup berdampingan pada kebhinekaan, teristimewa merancang sumber daya manusia yang dimaksud moderat dan juga inklusif. Contohnya dengan mempelajari agama secara komprehensif dan juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga perbedaan (khilafiyah) bukan dipandang sebagai konflik melainkan sebagai rahmat.
“Karena biasanya pemimpin-pemimpin ormasnya itu belajarnya hanya sekali agama saja, ketika belajar agama, tidaklah paham hidup sekarang,” kata Dosen Fakultas Syariah dan juga Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
“Sebetulnya nggak dapat Al-Quran kemudian Hadis dipahami secara tekstual, seharusnya dipahami secara utuh, harus dipahami tujuan risalah Islam itu apa,” kata Hamim.
Ia mengungkapkan boleh belaka meyakini suatu hal adalah kebenaran, namun jangan menganggap suatu hal itu adalah kebenaran mutlak, sebab setiap orang miliki pembenaran di versinya. Sikap merasa paling benar inilah yang mana mudah menyebabkan konflik antar umat beragama.
“Ketika yang tersebut dipelajari masa lalu, lalu sekarang tidaklah relevan namun masih diyakini sebagai kebenaran mutlak, itu mungkin saja yang digunakan terjadi, mudah untuk membidahkan, mengkafirkan,” kata penulis kitab Fikih Akbar: Prinsip-Prinsip Teologis Islam Rahmatan Lil’alamin.
Dengan adanya pembinaan, sejatinya organisasi warga serta ormas tak semata-mata berperan sebagai wadah untuk kelompoknya saja, namun juga sanggup tumbuh untuk mampu bermanfaat antar sesama tidak ada terjebak pada perdebatan yang dimaksud mengakibatkan konflik. Misalnya dengan menyukseskan inisiatif pemerintah pada mewujudkan kesejahteraan bangsa melalui pengkaderan anggota yang tersebut anti korupsi, kemudian memiliki kompetensi dalam bidangnya.
“Kalau misalnya itu potensinya itu dalam bidang kondisi tubuh terjun di area bidang kesehatan, kalau kemudian potensinya itu di tempat bidang sosial kemunusiaan, ya terjun pada bidang itu,” kata Hamim.
Ia berharap dengan wawasan kebangsaan yang dimaksud kuat lalu pemahaman moderasi beragama luas, kolaborasi pemerintah dengan organisasi penduduk mampu mewujudkan penduduk Indonesia yang dimaksud beradab, aman juga damai.





