Takut Komitmen, Refal Hady Ditampar Karakter Daku pada Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

JAKARTA – Film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu menyebabkan kisah cinta yang mana dekat dengan realitas banyak orang, teristimewa dari sudut pandang laki-laki yang mana takut akan komitmen.
Disutradarai Hanung Bramantyo, film ini juga menggali kompleksitas hubungan lalu perjalanan menemukan makna cinta sejati. Bahkan, Refal Hady yang dimaksud menjadi Daku merasa tertampar dengan karakternya itu.
Daku merupakan orang penulis yang tersebut bergulat dengan ketidakpastian pada hubungan. Dia beradu akting dengan Nadya Arina, Givina Lukita, Carissa Perusset lalu Mira Filzah yang memerankan perempuan-perempuan yang tersebut hadir pada kehidupannya.
“Gue kayak ditampar serupa karakter Daku, gue ada pada kedudukan itu. Hampir setiap cowok takut identik komitmen, tidak takut dengan hubungan, tapi takut sejenis dirinya sendiri,” ungkap Refal Hady.
“Gue kan nol tentang nulis, jadi Mas Hanung sejumlah ngejelasin tentang karakter ini. Gue belajar bukanlah cuma dari sisi cheezy-nya, tapi apa yang ada di dalam kepala individu penulis,” ucap ia lagi.
Nadya Arina yang berperan sebagai Nadya menyampaikan karakternya sangat merepresentasikan perempuan Indonesia. “Menurut aku, Nadya ini visual perempuan Indonesia banget yang mana melakukan berbagai cara sebagai pacar agar bisa jadi dinikahi,” ujarnya.
Aktris Malaysia, Mira Filzah, yang mana memerankan karakter Sarah, merasa cukup nyaman pada membawakan perannya. “Karena Sarah ini orang Malaysia, jadi aku bisa saja pakai bahasa Malaysia. Mas Hanung juga minta aku buat lepas aja pakai bahasa Indonesia. Hal ini pertama kali aku kerja identik Mas Hanung lalu pertama kali juga ke Jogja,” katanya.
Sementara, Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa proses produksi film ini sempat menghadapi kendala besar ketika ia mengalami kecelakaan.
“Beberapa hari syuting saya kecelakaan, kaki saya patah. Saya enggak di dalam lokasi, cuma pegang iPad dan juga direct dari sana. Saya merasa film ini cukup berjarak dengan segala dilemanya, sampai sempat bilang ke produser, ‘Udahlah, bikin film ini nanti aja,’” tuturnya.
Meski sempat pesimis, Hanung akhirnya mengawasi hasil yang dimaksud justru lebih banyak hidup dari yang digunakan ia bayangkan.






